ASSALAMUALAIKUM. WR.WB

Berjuang !
Sebuah tindakan yang kita butuhkan untuk mencapai masyarakat yang lebih baik, mempublikasi diri saya lewat dunia maya ini tak lain tak bukan, agar Dunia tahu apa yang sedang saya lakukan...apa yang saya kerjakan untuk PERUBAHAAN !
Saya butuh dukungan dari sahabat - sahabat yang membaca blog ini dalam rangka meningkatkan aktifitas dan produktifitas saya.
Saya bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, saya terlahir dari keluarga yang sederhana..dari ayahnda yang bernama Sayed Abdul Rachman bin Sayed Usman dan ibunda yang bernama Syarifah Rodiah binti Tengku Sayed Umar yang mempunyai jiwa yang luar biasa...saya dilahirkan di Dumai pada hari Khamis, 19 Desember 1974, bintang Sagitarius, Shio Macan.
Saya telah menikah dengan Rr. Setyowati dan mempunyai 2 orang anak, anak pertama Sayed Aqbil Ruhullya Muntazhar , yang kedua Syarifah Risya Dara Saqueena (kelak yang melanjutkan perjuangan Ayahndanya) - SJR-

27 November 2007

Kasus Pembunuhan Munir Tidak Akan Pernah Terungkap


Beberapa waktu yang lalu diputuskan oleh Mahkamah Agung sebagai lembaga yang katanya sebagai benteng terakhir keadilan di Republik ini, bahwa ternyata Pollycarpus tidak terbukti terlibat pada pembunuhan Munir seorang aktifis yang semasa hidupnya selalu membela kaum yang teraniaya, tapi kesalahan Pollycarpus hanya pengunaan surat palsu, sungguh ironi memang, dan tentu masih terbuka peluang menurut Ketua MA bagi kejaksaan untuk mengajukan Peninjauan Kembali (PK), akan tetapi Wakil Jaksa Agung mengatakan harus ada Novum baru untuk melakukan hal itu.

Jakarta, Koran-radar.com

Sejak semula kekuasaan sebenarnya selalu ambiguistas selalu berwajah dua, mempesona satu sisi, menakutkan pada sisi yang lain , hal ini mungkin berlaku pada kasus Munir atau juga pada kasus pembungkaman aktifis yang selalu tidak pernah terungkap, Kasus 27 Juli, Kasus penculikan 1998, kasus Marsinah, Peristiwa Tanjung Priok atau yang sekarang lagi terjadi di Russia pembunuhan wartawan karena terlalu kritis terhadap pelanggaran HAM yang dilakuan penguasa negeri tersebut, di negeri ini juga seperti kasus Udin wartawa harian Bernas Yogyakarta, ternyata Negara kekuasaan menimbulkan rasa takut kepada siapa pun, dia tampil begitu bengis, dan harus dipatuhi segala perintahnya Semakin banyak tidak terungkapnya kasus – kasus yang terjadi diatas, dan makin menguatnya eksistensi Negara sebagai konsekuensi logis melemahnya kekuatan oposisi, karena semua kekuatan yang mempunyai potensi ancaman selalu diakomodasi oleh struktur kekuasaan.


Sejak awal kasus Munir mulai diajukan tuntutan, saya sudah pesimis, hal ini disebabkan pengalaman – pengalaman masa lalu yang berakhir tidak adil bagi setiap pencari keadilan di negeri ini, apalagi menyangkut ada pertarungan elit berkuasa, maupun sipil atau militer yang berperan didalamnya, karena ketika Munir tewas dibunuh dengan cara tragis seperti itu, banyak spekulasi yang terjadi, apakah Munir dibunuh oleh elit kekuasaan masa lalu yang menunggu saat yang tepat untuk “mengeksekusi” Munir, atau ada kompromi antara elit demi sejarah masa lalu yang hitam, seperti kita ketahui Cak Munir melalui KontraS waktu itu yang membongkar peristiwa penculikan yang dilakukan salah satu pasukan elit di Negara Pancasila ini terhadap aktifis yang sangat kritis terhadap kekuasaan, yang sampai sekarang para aktifis tersebut tidak pernah ditemukan, Cak Munir juga melakukan pendampingan terhadap keluarga korban penculikan.

Keterlibatan elit masa lalu atau apapun namanya, sangat dimungkinkan kalau kita melihat proses rangkaian Kasus Munir ini dari awal sampai pada Keputusan MA, karena menurut DR Haryarmoko dalam bukunya Etika Politik Dan Kekerasan, kekerasan yang dilembagakan memakan korban kaum oposan, orang – orang miskin dan tersingkir, kelompok minoritas, mereka yang dianggap musuh oleh Negara, secara sistematis akan menjadi korban kekerasan ini. Kekerasan akan berakibat lebih jauh lagi adalah dibunuh.


Karena dapat ditilik juga pengungkapan Kasus Munir ini luar biasa susahnya, ada mantan Perwira Tinggi TNI yang dipanggil untuk didengar keterangannya seputar kasus tersebut saja susah datangnya, dan Polri tidak dapat melakukan apa – apa, walaupun sudah ada sinyal dari Presiden yang terhormat bahwa kasus ini harus diusut tuntas, ternyata sangat paradoks sekali dengan apa yang terjadi lapangan, bayangkan dalam kasus pegeboman di depan Kedutaan Australia, Cuma dalam hitungan jam saja Polisi sudah tahu kendaraan yang digunakan, plat mobil, pemilik mobil, dan pelaku serta jaringannya, luar biasa prestasi tersebut, tapi ibarat ucapan isteri Cak Munir Suciwati,”saya lelah dengan retorika Presiden. Kemampuan polisi yang menonjol dalam terorisme, mendadak menjadi tumpul dalam mengusut kasus Munir”


Kenyataanya pada Kasus Munir ini semacam ada kabut tipis yang samar – samar kelihatan bayang – bayang para pelaku utamanya, dan seakan – akan dapat ditebak bayang – bayang yang terlihat tersebut tapi sangat susah untuk kita menjamahnya. Dan sekarang tergantung penguasa negeri apakah benar pembunuhan Munir ini memang terlembagakan sebagai kejahatan yang terorganisir dan sistematis, jadi seluruh unit – unit kekuasaan bekerja untuk menutupinya, kalau benar itu terjadi maka Negara Kekuasaan ini telah benar – benar menjadi Leviathan, karena hanya menimbulkan rasa takut yang teramat sangat bagi warganya sendiri dalam upaya melanggengkan kekuasaannya, kalau seandainya tidak, bagaimana kalau Kasus Munir jadikan pelopor dalam rangka mengungkapkan kasus – kasus “pengbungkaman” suara – suara rakyat lainnya. Sehingga Kekuasaan tidak berjalan diatas tulang belulang, darah dan airmata masyarakat yang telah memberikan mandate sebagai legitimasi pada kekuasaan agar dapat melindunginya, tapi jangan salahkan kan rakyat juga suatu saat para penguasa tersebut tidak dipercayai lagi untuk mendapatkan mandat sebagai legitimasi kekuasaan yang syah.


Penulis
Sayed Junaidi Rizaldi
Mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia

AMPIP UI Dideklarasikan

Minggu, 25 Nopember 2007
Jakarta Republika -- Asosiasi Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia (AMPIP UI) Sabtu (24/11) dideklarasikan di Jakarta. Dalam kesempatan sama, terpilih Marbawi A Katon sebagai ketua untuk periode 2007-2008.

Deklarasi yang berlangsung di Kampus UI, Salemba, ini dihadiri oleh Ketua Program Parscasarjana Ilmu Politik FISIP UI, Julian Aldrin Pasha Phd. Sebanyak 22 mahasiswa (terdiri dari program magister dan doktoral) yang hadir dalam deklarasi tersebut juga ditetapkan sebagai deklarator.

Dalam kesempatan tersebut, Julian menyambut baik lahirnya AMPIP UI sebagai wadah bagi mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UI dalam mengembangkan keilmuannya, terutama di bidang ilmu politik.

Acara deklarasi yang disatukan dengan Rapat Umum Mahasiswa (RUM) Pascasarjana Ilmu Politik UI ini, juga telah mengesahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagai pijakan langkah asosiasi. Dalam AD/ART tertulis, selain mahasiswa, para alumni masih boleh menjadi anggota luar biasa namun tak memiliki hak untuk menjadi pengurus.

Pembahasan AD/ART yang dipandu oleh pimpinan sidang, Sayed Junaidi Rizaldi dan M Taufik, sempat berlangsung alot. Namun, semua perbedaan yang muncul akhirnya dapat disepakati dengan bulat. Sedangkan pemilihan ketua yang dipandu oleh Nurul S Hamami berlangsung lancar dan Marbawi terpilih secara aklamasi. Dalam kepengurusan, ketua terpilih sekurang-kurangnya dibantu seorang sekretaris dan seorang bendahara. (nul )

http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=314962&kat_id=375

16 November 2007

Pilkada Jakarta Siap Digelar

Romauli/Bachtiar/Suwarso/Norman Meoko

Jakarta - Selasa 7 Agustus 2007) Komisi Pemilihan Umum (KPUD) Jakarta memastikan distribusi logistik menyangkut Pilkada Jakarta telah rampung. Distribusi logistik penyelenggaraan pemilihan umum kepala daerah DKI telah selesai 100 persen, Selasa (7/8) ini.
Demikian dikatakan Wakil Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Logistik KPUD Jakarta, Dolvi Ngantung, kepada SH, Selasa pagi. Dia menyatakan sebanyak 11.256 tempat pemungutan suara (TPS), termasuk empat lokasi TPS pasangan calon gubernur dipastikan siap digunakan.
“Seluruh logistik pilkada telah kita distribusikan seluruhnya ke kantor KPU Kotamadya. Kotamadya telah mendistribusikan seluruhnya ke Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) tingkat kelurahan. Saya sudah cek semalam, seluruh TPS telah dipersiapkan, termasuk empat TPS bagi pasangan cagub dan cawagub,” jelasnya.
Distribusi logistik pilkada berupa alat-alat perlengkapan seperti surat suara dan tinta dimasukkan dalam kotak suara yang terkunci rapat. Bersamaan dengan itu, bilik suara juga dibagikan, begitu juga dengan berkas-berkas seperti formulir C, yaitu formulir undangan kepada penduduk untuk memilih, formulir C1 untuk para saksi, formulir berita acara salinan daftar pemilih tetap (SDPT), dan alat-alat tulis kantor.
Kartu pemilih yang belum sempat dibagikan kepada warga juga dimasukkan dalam kotak suara.

Menurut Dolvi, kondisi ini terjadi karena kesulitan petugas PPS membagikan kartu pemilih kepada warga yang sedang bekerja. “Banyak warga Jakarta yang belum mendapat kartu pemilih karena saat pembagian bentrok dengan jam kerja.
Namun, hari ini kita upayakan kartu pemilih dapat didistribusikan seluruhnya,” katanya.
Untuk memastikan agar semua distribusi berjalan lancar, rencananya malam ini KPUD akan memantau kembali pembagian Kelompok Penyelenggaran Pemungutan Suara (KPPS) di seluruh TPS, termasuk memantau persiapan di lokasi TPS para pasangan calon gubernur.
Pemungutan suara Pilkada Jakarta akan digelar Rabu (8/8). Calon gubernur Adang Daradjatun mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Cipete, Jakarta Selatan. Sementara itu, calon gubenur Fauzi Bowo mencoblos di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.
Calon wakil gubernur Dani Anwar mencoblos di TPS di Kebun Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Calon wakil gubernur Prijanto melakukan pemungutan suara di TPS Otista, Jakarta Timur.

Kegiatan Pasangan Calon
Sementara itu, calon gubernur Jakarta Fauzi Bowo sepanjang siang ini hanya menggelar acara ramah tamah dengan rekan-rekan media massa di kediaman di Jalan Denpasar Raya Blok C-17 No.48, Kuningan, Jakarta Pusat, dilanjutkan dengan pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat di Ibu Kota di antaranya perwakiulan siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, perwakilan linta agama serta perwakilan pencinta budaya Betawi.
Acara itu ditutup dengan makan siang bersama di Sop “Pak Kumis” di Jalan Kendal, Blora, Menteng, Jakarta Pusat.
Pasangan calon gubernur Adang Daradjatun-Dani Anwar menggelar acara penyerahan penghargaan terhadap sejumlah hasil jepretan foto dan video sejumlah media massa yang meliput pelaksanaan kampanye Adang-Dani, Selasa (7/8), di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta. Hadiah ini sebagai bentuk apresiasi terhadap wartawan, selama mengikuti kegiatan kampanye Adang-Dani.
Pengamatan SH, kesiapan logistik untuk pemungutan suara Pilkada Jakarta terlihat di sejumlah wilayah Jakarta. Di wilayah Jakarta Barat, misalnya, logistik untuk pemungutan suara pilkada 2007 di kawasan tersebut telah didistribusikan secara keseluruhan Selasa (7/8) pag ini hingga ke tingkat PPS (Panitia Pemungutan Suara) di tiap kelurahan.
Menurut Kepala KPU Jakarta Barat Sjahrin Lumbentoruan ketika dihubungi SH, pihaknya telah merampungkan 2.408 TPS yang ada di Jakarta Barat. Selain melangsungkan pemungutan di TPS-TPS umumnya, di Jakarta Barat juga dilakukan pencoblosan di 11 TPS khusus tersebar di 4 kecamatan. Ke-11 TPS tersebut di antaranya 7 TPS khusus di Kecamatan Palmerah, yaitu tahanan Polres Jakarta Barat dan 6 rumah sakit diataranya RS Harapan Kita dan Dharmais.
Sebanyak 1 TPS khusus di wilayah Petamburan, yaitu RS Sumber Waras, 1 TPS khusus di Cengkareng yaitu di RSUD Cengkareng, 2 TPS khusus di Kebon Jeruk yaitu RS Siloam dan Medica Permata Hijau.
Sementara itu, mengenai teknis pelaksanaan pemungutan suara yang akan dilangsungkan di Polres Metro Jakarta Barat, Kapolres Kombes Edward Syah Pernong mengatakan pihaknya telah siap dengan pelaksanaan pemungungutan suara. “Saat pencoblosan berlangsung, pengamanan akan diperketat. Tahanan yang akan menggunakan hak suaranya berjumlah 324 orang dari 8 polsek dan polres,” lanjutnya.
Di wilayah Jakarta Utara, persiapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di wilayah Jakarta Utara sudah mulai marak. Hal itu ditandai dengan didirikannya tempat pemungutan suara (TPS) di 32 kelurahan yang meliputi 6 kecamatan di Jakarta Utara. TPS itu sudah berdiri Senin (6/8) malam.
“TPS yang ada di Jakarta Utara berjumlah 1.824 merupakan TPS biasa. Adapun 24 TPS lainnya dikategorikan khusus yang didirikan di beberapa rumah sakit dan perusahaan-perusahaan swasta yang karyawannya sulit untuk keluar kantor,” ujar Ketua Panwas Pilkada Jakarta Utara Muhammad Ikbal kepada SH Selasa pagi.
Sementara itu, Komunitas Tenabang Bersatu, Senin (6/8), mengamankan enam hingga tujuh warga Tanah Abang disebut-sebut dijanjikan akan menerima sejumlah uang bila mencoblos satu calon gubernur Jakarta pada Pilkada ini. Koordinator Pilkada Watch Jakarta Sayed Junaidi yang dihubungi SH membenarkan temuan tersebut. Sejumlah warga yang tersebar di Tanah Abang diiming-imingi sejumlah uang apabila terbukti telah mencoblos pasangan calon gubernur tertentu.
Dia menambahkan terdapat empat modus sebagai bukti telah melakukan pencoblosan. Salah satunya stiker yang sengaja dibagi-bagikan kepada warga yang berjanji akan memilih pasangan calon gubernur tertentu.
“Stiker ini sifatnya seperti voucher. Setelah memilih dapat menukar stiker tersebut dengan uang,” kata Sayed. n (Sinar Harapan)

KELUARGA Anugerah Yang Tiada Ternilai